Oleh
: Khoiruddin As - Sajari
Embun
pagi masih menyelimuti desa. Masih enggan meninggalkan dedaunan. Berlusuh -
lusuh manja pada ranting ranting pohon. Menggenangi pucuk pucuk rerumputan.
Menciptakan kristal - kristal putih yang menawan, Semilir angin bertiup pelan
mengisi celah-celah kesunyian di pagi semu petang. Membuat orang-orang enggan beraktifitas.
Menyihir para binatang tertidur dalam belaian pagi yang dingin. Sesekali angin
bertiup kencang sehingga menimbulkan rasa dingin menusuk tulang.
Tak
lama kemudian angin kembali bertiup lebih kencang menampar tubuh seorang
perempuan di balik pohon cemara. Menyadarkannya dari lamunan panjang. Cairan
hangat terjatuh di pipinya. Merangkak pelan dan terjatuh menimpa dedaunan
kering. Seperti hidupnya kering dan gersang. "Lisa...lisa.. Apa yang kau
lakukan disana..? Apakah masih sama dalam penantian yang panjang. Dia tidak akan
kembali". Teriak lelaki tinggi yg tak lain adalah kakaknya. Lisa tetap
saja tak bergeming dari tempatnya, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Hanya kecamuk dan jeritan hatinya yg mengisi setiap pagi di bawah cemara
penantian.
Sesekali
ia menghela nafas dalam mencoba membenamkan keadaan. Menyusuri tiap detik yang
terhempas jauh diujung waktu. Mencoba menghadirkan kembali sosok yg
dirindukannya. Yang membuatnya mematung setiap pagi di tempat itu.
Perlahan
mentari membuka mata, mengirim sinarnya melahap habis sisa-sisa embun pada
dedaunan. Melahap pagi yg diharap masih panjang oleh lisa. Ia merasa kesal,
kenapa pagi begitu cepat berlalu. Pejaman matanya mengandung luka dan
kekecewaan. "Arya dimana kamu..setiap pagi aku menunggumu. kenapa kau tak
kembali apakah kau sudah lupa? ditempat inilah hubungan kita terjalin".
Teriaknya dalam batin. Langkah kakinya kian berat. Ia merasa lelah dengan semua
ini. ia kalah pada penantian yang tak tau kapan akan berakhir. Sudah lebih satu
tahun ia korbankan pagi untuk menemani cemara itu, berharap kemunculan
seseorang di sampingnya. Ya, seseorang yang tak pernah pudar dalam ingatannya.
Seseorang yang mengacaukan harapan demi harapan yg ia tata dengan begitu
sempurna.. Kini hanya meninggalkan seberkas luka yang tak mungkin terobati
ditaburi tanda tanya yg tak ada habisnya.
Mengapa? dan
Bagaimana, Hubungan kita.?
Pangarengan, 12 November 2020.
Mantap kak 😂
BalasHapusSalam fradiksi
Siap kak... Salam sataretanan
HapusBagus banget kak👍🤩
BalasHapusSalam literasi
Hapus