Selasa, 22 September 2020

Diatas Ranjang (Gubuk PUISI)

 Di Atas Ranjang

: Aqil Husein Almanuri


Malam menyinggahi setiap sudut kamar

Tak terkecuali pelupuk cinta di matamu itu

Kita bersiap menuju kisah, tak ada seorang pun tahu

Sayup tak berbisik, suara tanpa lirik


"Krek" kenikmatan tiba-tiba merenggutku

Jam dinding melantunkan kesunyian

Sedangkan kita berpacu dalam diam

Tanpa peduli nasib semesta yang sedang berdoa


"Ah" katamu...

Gelap pun menyetubuhi kita

Waktu lamban menjelma pagi

Aku yang belum mengemas kata

Hanya bisa berkutat dalam rintih


"Dasar, kau sangat cantik!"

Diriku menggerutu kagum

Memandangi wajah sangat ranum

Di atasmu, Lillah masih menjadi niatku

Kau pun telah menjadi hidupku.


Kantuk merekah di pundak harapan

Beterbangan mengikuti hilir sebuah takdir

Kemudian ia hinggap di masing-masing kita

Hingga mengatup menjelma akhir kisah


Aku terbaring di atas rasa

Melepas lelah yang sempurna

Lalu mata terpejam

Sambil menikmati tubuh malam yang nyaris kelam


Kamar, 17 Sept 2020

Sabtu, 12 September 2020

AKU RINDU

 

Aku rindu

oleh : khoiruddin

Gubahan: Diddo_Mahri

Duniaku dimulai saat aku membuka mata, pagi menyambutku dengan hangat. Sinarnya menembus kaca jendela dan menampakkan berbagai jenis mainan tertata rapi menghadap tempatku berbaring seperti memberikan salam kenal dan jumpa. Setiap sudut kamar terpajang beberapa pigora membingkai foto anak kecil dengan beberapa pose yang lucu, wajahnya lugu menyadarkanku bahwa wajah itu seperti milikku, aku rasa itu aku.

                Perlahan derekan pintu berbunyi, menandakan bahwa seseorang telah membukanya. Kupalingkan pandangan pada sosok pria berkacamata, laki-laki yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang mengurusiku dan menyediakan segala sesuatunya untukku. Seulas senyum terukir di bibirnya, dia semakin mendekat kemudian mendekap dan mendaratkan bibirnya di keningku. “Selamat ulang tahun yang ke tujuh Tania”.

Ayah, dia Ayahku. Dia tidak pernah lupa dengan hari ini, hari yang menjadi kebahagiaan dalam hidupnya, hari dimana ia menjadi seorang Ayah.

Tangannya menggandeng tanganku menuju ruang tamu. Disana kulihat kue ulang tahun dan beberapa bingkisan kado tak bermilik. Tak ada seorangpun disana kecuali hanya sebatang lilin berdiri tegak dengan kobaran api kecil di atasnya.

Hari ini ulang tahunku, Ayah menyodorkan  bingkisan kado kecil, ia ingin aku membukanya. Sebuah kaset? kuangkat sedikit garis kening hingga nampak kerutan-kerutan di dahi, mempertemukan kedua alis tebalku.

         “Putarlah kaset itu,” ucap Ayah dengan sebuah senyuman yang tak bisa kuartikan.

Sosok perempuan muda muncul di balik layar, lesung pipitnya merekah ketika senyum tercipta di bibirnya, membuat aku yakin bahwa dia adalah ibuku. Bagimana aku tahu? Itu karena Ayah selalu bercerita padaku tentang sosok ibu dalam gambaran-gambaran imajinasi di kepalaku.

         “Kau mirip sekali dengan ibumu” tiba-tiba Ayah berbicara setelah gambar di layar televisi menghilang, sesaat keheningan menyelimuti kami berdua.  Aku tak bisa menimpali perkataannya. Kulihat gemericik embun bergelantungan di lekungan matanya. Ayah masih sangat mencintai ibu, dia tidak pernah berhenti berharap, ia selalu berdoa semoga ibu kembali dan berkumpul bersama kami. Aku tak pernah tau kemana ibu pergi, apakah ibu sengaja meninggalkanku dan Ayah, atau hal yang lainnya. Ayah tak pernah memberi tahuku soal itu.

****

                Pagi merekah begitu indah, matahari mulai merangkak dari peraduan mengusir kegelapan perlahan demi perlahan. Beberapa binatang mulai menampakkan diri meramaikan suasana pagi. Beberapa burung berkicauan menciptakan melodi indah yang ditemani tarian angin-angin kecil menggerakkan dedaunan dengan lembut. Hari ini aku dan Ayah akan melakukan perjalanan jauh, karena menurutnya ini adalah waktunya aku tahu dan mengerti semuanya. Selama ini kami tinggal di sebuah desa kecil tempat pelarian Ayah dari kesedihan karena ibu tak pernah kembali.

         Mobil yang kami tumpangi melaju tenang di jalan beraspal melewati gedung-gedung pencakar langit yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sesekali kutahan napas saat asap kenalpot menyerang hidungku. Kulihat beberapa anak dengan tubuh mungilnya berdiri di depan mobil yang sedang berhenti, tangannya memegang tutup botol yang telah dipipihkan, mulutnya bergerak-gerak. Pikiranku melayang “Sekeras itukah kehidupan mereka..?” aku tak percaya semua itu, aku kira akulah anak paling malang di dunia ini, karena keberadaan ibuku yang tidak diketahui. Sekarang aku bersyukur karena disisiku masih ada seorang Ayah yang selalu mencintaiku.

                Setelah empat jam menempuh perjalanan kami sampai dikawasan sebuah pantai yang kurasa tidak begitu terkenal, karena hanya segelintir orang yang berada disana. Kami mulai menyusuri butiran pasir-pasir putih yang terhampar dibibir pantai. Seorang lelaki menghampiri dan menyapaka kami, lalu memberikan Ayah plastik berisi kelopak-kelopak bunga melati. Kemudian beberapa orang menghampiri kami dengan plastik yang sama di tangan mereka, untuk apa bunga-bunga itu? Pikirku. Kurasakan tangan Ayah meraih tanganku dangan gemetar. Beberapa kelopak bunga itu telah berada dalam genggaman, aku hanya melakukan apa yang mereka lakukan dengan kelopak-kelopak itu, menghanyutkannya bersama hembusan angin ke tengah pantai.

         “Semoga kalian semua mendapat tempat terbaik disisi-Nya” salah seorang diantara mereka berucap dengan getaran yang penuh kepiluan. Sorot matanya terlihat kosong menatap lautan. Beberapa pasang mata menghujani pipi dengan airmatanya, termasuk Ayah, apa sebenarnya yang mereka tangisi, apa yang mereka lakukan disini dan untuk apa bunga-bunga tadi?

         Ayah memalingkan wajahnya kepadaku, mata yang selalu teduh itu kini sembab. Ia berjongkok dan menatapku dangan tatapan iba. Kuusap bulir-bulir kesedihan yang membasahi pipinya, “Duduklah...!Ayah akan ceritakan semuanya, mengapa kita disini, dan apa dari maksud semua ini?”.

Dia menarik nafas, terdapat aroma kesedihan didalamnya, “Enam tahun yang lalu sebuah perahu kecil berangkat dari pantai ini, perahu yang berisi enam orang wanita yang berprofesi sebagai peneliti binatang laut, tujuan mereka meneliti seekor paus besar yang hidup di pantai ini,” Tatapan mata Ayah kini berubah, seakan ada awan kelabu yang menyerap sinar dari tatapannya. Perlahan Ayah berpaling dariku melepas pandangan ke tengah lautan, tergulung ombak hingga tenggelam dan menyisakan tatapan kosong. “Dan wanita yang Ayah cintai juga ikut serta” ayah menahan airmatanya agar tak terjatuh.

“Kau tau, ibumu itu orang hebat, dialah yang memimpin penelitian itu” mata Ayah kini berkaca-kaca, kesedihan kembali menyelimuti hati Ayah. “Sudah Ayah jangan diteruskan lagi, aku tidak mau Ayah bersedih lagi,” pintaku padanya, meskipun sebenarnya hati mengatakan sebaliknya. “Setelah itu saat mereka ingin beranjak pulang, sebuah kapal besar datang. Karena gelap menyelimuti malam itu, Awak kapal tak melihat perahu kecil di depannya hingga kecelakaan itu terjadi”.

         Tetes demi tetes kristal berjatuhan, rasa memilukan itu melanda kami berdua. Kupeluk Ayah erat-erat kurasakan sekujur tubuhnya bergetar, isak tangis kami beradupacu dengan melodi kesedihan,  Ayah menatapku “Setelah kejadian itu yang tersisa  hanya puing-puing perahu yang berserakan ke tepi pantai, dan hanya beberapa korban yang jasadnya diketemukan, tapi tidak dengan ibumu. Karena itulah sampai saat ini Ayah tetap berharap bahwa ibumu masih hidup”ucapnya sambil menarik garis wajahnya berharap aku melihat seuntai senyum pada kulit yang hampir keriput itu. Tapi aku tahu sorot matanya menyingkap kesedihan yang teramat dalam.

*****

         Sore berkabung duka di hati, sinar-sinarnya seakan meredup lebih cepat. Gumpalan-gumpalan kesedihan menyongsong sinar keemasannya berganti dengan kabut-kabut kepiluan. Kenyataan itu memang menyakitkan, setelah sekian lama Ayah menyembunyikannya dariku. Mungkin ini yang terbaik, dengan begini aku tidak menjadi anak cengeng.

Kulingkarkan kedua tangan pada lutut yang tertekuk, sementara kutancapkan dagu diatasnya. Semilir angin nakal memainkan ujung rambut yang menutupi sebagian wajahku, jemari ini mengepal seakan marah pada takdir, marah pada waktu yang telah merampas ibu. Tiba-tiba seseorang menggenggam tanganku, kudongakkan kepala seorang lelaki menyodorkan sebuah botol kosong, kertas dan sebuah spidol, “Tulislah apa yang ada dalam hatimu dan hanyutkan bersama ombak. Mungkin itu akan membuatmu lebih baik” ucap lelaki itu seraya pergi meninggalkanku dengan deburan ombak yang menjilati bibir pantai.

         Kuambil kertas itu dan mulai menulis, tapi aku bingung apa yang akan aku tulis? Kemudian kurogoh saku dan mendapati sebuah foto yang tadi diberikan Ayah.

Tuhan... jika dia sudah bersamamu aku tak mengapa, aku tak akan meminta-Mu untuk mengembalikannya padaku, tapi aku mohon berilah ibu tempat terbaik disisi-Mu. Dan jika dia masih di dunia ini tolong buatlah dia menemui kami, sampaikan salam rinduku padanya dan katakanlah padanya bahwa kami sangat mencintainya...

         Tak ada lagi yang ingin kutulis dalam kertas itu, kemudian kumasukkan kedalam botol bersama secarik foto ibu di dalamnya. Tak berapa lama botol itu telah berada di tengah lautan terombang ambil tergulung ombak, tampak semakin kecil dan kemudian hilang dari pandangan. Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan mau mengabulkan doa dan harapanku.

         *****

Hembusan angin pagi seakan membelaiku, mengikuti dan menemaniku menyusuri pantai ini. Sudah tiga hari aku disini barsama Ayah dan entah mangapa hari ini aku ingin sekali melihat matahari terbit di ujung pantai sana, menikmati keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuk makhluknya.

Perlahan tapi pasti mentari telah menampakkan diri di ufuk timur, sinar-sinarnya menyepuh air menjadi keemasan, melukiskan keagungan Penciptanya. Terlihat awan seakan berbentuk manusia melakukan sujud kepada Sang Kholik sebagai tanda syukur atas nikmatNya.

Kulangkahkan kaki menyusuri bibir pantai, tanpa disengaja kakiku menginjak sesuatu yang mengusik keingintahuanku, “Bukankah ini...” aku tak bisa meneruskan ucapanku sendiri, seakan tenggorokan ini tercekat sesuatu. Aku terkejut, apakah Tuhan memang tidak mau mengabulkan do’a seorang anak yang sedari kecil dipenuhi kesedihan dan kepiluan ini. Botol itu kutemukan dibibir pantai dengan isi yang berserakan, sedang foto ibu hilang entah kemana.

****

Entah sudah berapa lama aku menangis sehingga tanpa kusadari seseorang telah berdiri di belakangku, lalu mendekapku “Ayah...” Ceracauku dalam tangis. Tangan Ayah membelai rambut panjangku, kugenggam tangannya mencari kehangatan di sela-sela jemarinya, entah mengapa saat itu tangan Ayah terasa begitu halus, mungkinkan kesedihan ini membuatku kurang peka?,  tidak, ini bukan tangan Ayah aku yakin sekali. Kubalikkan badan mencari tau siapakah sosok di belakangku.

Mata indah itu memandangku, lesung pipit merekah indah saat dia mengukir senyum di wajahnya, aku mengedipkan mata beberapa kali, apakah pandanganku sudah merabun, atau ini semua hanya halusinasi dari fatamorgana kerinduan hati, atau semua ini memang nyata..., perempuan itu memperlihatkan sebuah foto, foto yang persis dengan wajahnya,

             “Ibu... Ibu.... Ibu...” aku hanya bisa meraung bahagia,         

             Ibu... Ibu... ibu..” teriakku lagi  dan berusaha memeluknya kembali.

Tiba-tiba tubuhku hanyut ke tempat yang berbeda, bukan di tepi pantai tapi di sebuah kamar dengan nuansa putih, dan kudapati wajah ayah yang kuatir dengan mata sembab,

             “Tania, bangun Nak” ucap ayah seraya merangkulku.

             “Ayah mana ibu yah, kenapa Tania ada disini?,  tadi Tania ketemu ibu di tepi pantai” ceracauku dengan airmata mengalir. Tak kusangka ternyata pertemuan itu hanya sebatas dalam mimpi, mimpi dari kerinduan seorang  anak kepada sang ibunda tercinta.

sambutan pemilik blog.

 assalamualaikum temen-temen 

selamat datang di akun blog saya 

semoga kalian bisa menimba ilmu dari blog saya 

dan semuga blog ini bisa bermanfaat bagi saya kelak, dan bisa menginspirasi temen-temen pembaca semua amin...

Legenda Putri Nandi dan Asal Usul Desa Karongan. Buku Masteka dari Sampang

 Konon katanya penguasa ke -6 Raja Majapahit yang bernama Dewi suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana. Ia memperluas kerajaan Majapahit denga...