Aku
rindu
oleh : khoiruddin
Gubahan:
Diddo_Mahri
Duniaku dimulai saat aku membuka mata, pagi menyambutku dengan hangat.
Sinarnya menembus kaca jendela dan menampakkan berbagai jenis mainan tertata rapi menghadap
tempatku berbaring seperti memberikan salam kenal dan jumpa. Setiap sudut kamar
terpajang beberapa pigora membingkai foto anak kecil dengan beberapa pose yang
lucu, wajahnya lugu menyadarkanku bahwa wajah itu seperti milikku, aku rasa
itu aku.
Perlahan derekan pintu berbunyi, menandakan bahwa
seseorang telah membukanya. Kupalingkan pandangan pada sosok pria berkacamata,
laki-laki yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang mengurusiku dan
menyediakan segala sesuatunya untukku. Seulas senyum terukir di bibirnya, dia semakin mendekat kemudian mendekap dan mendaratkan bibirnya di
keningku. “Selamat ulang tahun yang ke tujuh Tania”.
Ayah, dia Ayahku. Dia tidak
pernah lupa dengan hari ini, hari yang menjadi kebahagiaan dalam hidupnya, hari
dimana ia menjadi seorang Ayah.
Tangannya menggandeng tanganku menuju ruang tamu. Disana
kulihat kue ulang tahun dan beberapa bingkisan kado tak bermilik. Tak ada
seorangpun disana kecuali hanya sebatang lilin berdiri tegak dengan kobaran api
kecil di atasnya.
Hari ini ulang tahunku, Ayah menyodorkan bingkisan kado kecil, ia ingin aku
membukanya. Sebuah kaset? kuangkat sedikit garis kening hingga nampak
kerutan-kerutan di dahi, mempertemukan kedua alis tebalku.
“Putarlah
kaset itu,” ucap Ayah dengan sebuah senyuman yang tak bisa kuartikan.
Sosok perempuan muda muncul di balik layar, lesung
pipitnya merekah ketika senyum tercipta di bibirnya, membuat aku yakin bahwa
dia adalah ibuku. Bagimana aku tahu? Itu karena Ayah selalu bercerita
padaku tentang sosok ibu dalam gambaran-gambaran imajinasi di kepalaku.
“Kau mirip
sekali dengan ibumu” tiba-tiba Ayah berbicara setelah gambar di layar televisi
menghilang, sesaat keheningan menyelimuti kami berdua. Aku tak bisa menimpali perkataannya. Kulihat
gemericik embun bergelantungan di lekungan matanya. Ayah masih sangat mencintai
ibu, dia tidak pernah berhenti berharap, ia selalu berdoa semoga ibu kembali
dan berkumpul bersama kami. Aku tak pernah tau kemana ibu pergi, apakah ibu
sengaja meninggalkanku dan Ayah, atau hal yang lainnya. Ayah tak pernah memberi
tahuku soal itu.
****
Pagi
merekah begitu indah, matahari mulai merangkak dari peraduan mengusir kegelapan
perlahan demi perlahan. Beberapa binatang mulai menampakkan diri meramaikan
suasana pagi. Beberapa burung berkicauan menciptakan melodi indah yang ditemani
tarian angin-angin kecil menggerakkan dedaunan dengan lembut. Hari ini aku dan
Ayah akan melakukan perjalanan jauh, karena menurutnya ini adalah waktunya aku
tahu dan mengerti semuanya. Selama ini kami tinggal di sebuah desa kecil tempat
pelarian Ayah dari kesedihan karena ibu tak pernah kembali.
Mobil yang
kami tumpangi melaju tenang di jalan beraspal melewati gedung-gedung pencakar
langit yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sesekali kutahan napas saat asap
kenalpot menyerang hidungku. Kulihat beberapa anak dengan tubuh mungilnya
berdiri di depan mobil yang sedang berhenti, tangannya memegang tutup botol
yang telah dipipihkan, mulutnya bergerak-gerak. Pikiranku melayang “Sekeras
itukah kehidupan mereka..?” aku tak percaya semua itu, aku kira akulah anak
paling malang di dunia ini, karena keberadaan ibuku yang tidak diketahui.
Sekarang aku bersyukur karena disisiku masih ada seorang Ayah yang selalu
mencintaiku.
Setelah
empat jam menempuh perjalanan kami sampai dikawasan sebuah pantai yang kurasa
tidak begitu terkenal, karena hanya segelintir orang yang berada disana. Kami
mulai menyusuri butiran pasir-pasir putih yang terhampar dibibir pantai.
Seorang lelaki menghampiri dan menyapaka kami, lalu memberikan Ayah plastik
berisi kelopak-kelopak bunga melati. Kemudian beberapa orang menghampiri kami
dengan plastik yang sama di tangan mereka, untuk apa bunga-bunga itu? Pikirku.
Kurasakan tangan Ayah meraih tanganku dangan gemetar. Beberapa kelopak bunga
itu telah berada dalam genggaman, aku hanya melakukan apa yang mereka lakukan
dengan kelopak-kelopak itu, menghanyutkannya bersama hembusan angin ke tengah
pantai.
“Semoga
kalian semua mendapat tempat terbaik disisi-Nya” salah seorang diantara mereka
berucap dengan getaran yang penuh kepiluan. Sorot matanya terlihat kosong menatap
lautan. Beberapa pasang mata menghujani pipi dengan airmatanya, termasuk Ayah, apa
sebenarnya yang mereka tangisi, apa yang mereka lakukan disini dan untuk apa
bunga-bunga tadi?
Ayah
memalingkan wajahnya kepadaku, mata yang selalu teduh itu kini sembab. Ia
berjongkok dan menatapku dangan tatapan iba. Kuusap bulir-bulir kesedihan yang
membasahi pipinya, “Duduklah...!Ayah akan ceritakan semuanya, mengapa kita
disini, dan apa dari maksud semua ini?”.
Dia menarik nafas, terdapat aroma kesedihan didalamnya,
“Enam tahun yang lalu sebuah perahu kecil berangkat dari pantai ini, perahu
yang berisi enam orang wanita yang berprofesi sebagai peneliti binatang laut,
tujuan mereka meneliti seekor paus besar yang hidup di pantai ini,” Tatapan
mata Ayah kini berubah, seakan ada awan kelabu yang menyerap sinar dari
tatapannya. Perlahan Ayah berpaling dariku melepas pandangan ke tengah lautan,
tergulung ombak hingga tenggelam dan menyisakan tatapan kosong. “Dan wanita
yang Ayah cintai juga ikut serta” ayah menahan airmatanya agar tak terjatuh.
“Kau tau, ibumu itu orang hebat, dialah yang memimpin
penelitian itu” mata Ayah kini berkaca-kaca, kesedihan kembali menyelimuti hati
Ayah. “Sudah Ayah jangan diteruskan lagi, aku tidak mau Ayah bersedih lagi,”
pintaku padanya, meskipun sebenarnya hati mengatakan sebaliknya. “Setelah itu
saat mereka ingin beranjak pulang, sebuah kapal besar datang. Karena gelap
menyelimuti malam itu, Awak kapal tak melihat perahu kecil di depannya hingga
kecelakaan itu terjadi”.
Tetes demi
tetes kristal berjatuhan, rasa memilukan itu melanda kami berdua. Kupeluk Ayah
erat-erat kurasakan sekujur tubuhnya bergetar, isak tangis kami beradupacu
dengan melodi kesedihan, Ayah menatapku
“Setelah kejadian itu yang tersisa hanya
puing-puing perahu yang berserakan ke tepi pantai, dan hanya beberapa korban
yang jasadnya diketemukan, tapi tidak dengan ibumu. Karena itulah sampai saat
ini Ayah tetap berharap bahwa ibumu masih hidup”ucapnya sambil menarik garis
wajahnya berharap aku melihat seuntai senyum pada kulit yang hampir keriput
itu. Tapi aku tahu sorot matanya menyingkap kesedihan yang teramat dalam.
*****
Sore
berkabung duka di hati, sinar-sinarnya seakan meredup lebih cepat.
Gumpalan-gumpalan kesedihan menyongsong sinar keemasannya berganti dengan
kabut-kabut kepiluan. Kenyataan itu memang menyakitkan, setelah sekian lama
Ayah menyembunyikannya dariku. Mungkin ini yang terbaik, dengan begini aku
tidak menjadi anak cengeng.
Kulingkarkan kedua tangan pada lutut yang tertekuk,
sementara kutancapkan dagu diatasnya. Semilir angin nakal memainkan ujung
rambut yang menutupi sebagian wajahku, jemari ini mengepal seakan marah pada
takdir, marah pada waktu yang telah merampas ibu. Tiba-tiba seseorang
menggenggam tanganku, kudongakkan kepala seorang lelaki menyodorkan sebuah
botol kosong, kertas dan sebuah spidol, “Tulislah apa yang ada dalam hatimu dan
hanyutkan bersama ombak. Mungkin itu akan membuatmu lebih baik” ucap lelaki itu
seraya pergi meninggalkanku dengan deburan ombak yang menjilati bibir pantai.
Kuambil
kertas itu dan mulai menulis, tapi aku bingung apa yang akan aku tulis?
Kemudian kurogoh saku dan mendapati sebuah foto yang tadi diberikan Ayah.
Tuhan... jika dia sudah bersamamu aku tak mengapa, aku
tak akan meminta-Mu untuk mengembalikannya padaku, tapi aku mohon berilah ibu
tempat terbaik disisi-Mu. Dan jika dia masih di dunia ini tolong buatlah dia
menemui kami, sampaikan salam rinduku padanya dan katakanlah padanya bahwa kami
sangat mencintainya...
Tak ada
lagi yang ingin kutulis dalam kertas itu, kemudian kumasukkan kedalam botol
bersama secarik foto ibu di dalamnya. Tak berapa lama botol itu telah berada di
tengah lautan terombang ambil tergulung ombak, tampak semakin kecil dan
kemudian hilang dari pandangan. Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan mau
mengabulkan doa dan harapanku.
*****
Hembusan angin pagi seakan membelaiku, mengikuti dan
menemaniku menyusuri pantai ini. Sudah tiga hari aku disini barsama Ayah dan
entah mangapa hari ini aku ingin sekali melihat matahari terbit di ujung pantai
sana, menikmati keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuk makhluknya.
Perlahan tapi pasti mentari telah menampakkan diri di ufuk
timur, sinar-sinarnya menyepuh air menjadi keemasan, melukiskan keagungan
Penciptanya. Terlihat awan seakan berbentuk manusia melakukan sujud kepada Sang
Kholik sebagai tanda syukur atas nikmatNya.
Kulangkahkan kaki menyusuri bibir pantai, tanpa disengaja
kakiku menginjak sesuatu yang mengusik keingintahuanku, “Bukankah ini...” aku
tak bisa meneruskan ucapanku sendiri, seakan tenggorokan ini tercekat sesuatu.
Aku terkejut, apakah Tuhan memang tidak mau mengabulkan do’a seorang anak yang
sedari kecil dipenuhi kesedihan dan kepiluan ini. Botol itu kutemukan dibibir
pantai dengan isi yang berserakan, sedang foto ibu hilang entah kemana.
****
Entah sudah berapa lama aku menangis sehingga tanpa
kusadari seseorang telah berdiri di belakangku, lalu mendekapku “Ayah...”
Ceracauku dalam tangis. Tangan Ayah membelai rambut panjangku, kugenggam
tangannya mencari kehangatan di sela-sela jemarinya, entah mengapa saat itu
tangan Ayah terasa begitu halus, mungkinkan kesedihan ini membuatku kurang
peka?, tidak, ini bukan tangan Ayah aku
yakin sekali. Kubalikkan badan mencari tau siapakah sosok di belakangku.
Mata indah itu memandangku, lesung pipit merekah indah saat dia
mengukir senyum di wajahnya, aku mengedipkan mata beberapa kali, apakah
pandanganku sudah merabun, atau ini semua hanya halusinasi dari fatamorgana
kerinduan hati, atau semua ini memang nyata..., perempuan itu memperlihatkan
sebuah foto, foto yang persis dengan wajahnya,
“Ibu...
Ibu.... Ibu...” aku hanya bisa meraung bahagia,
“Ibu...
Ibu... ibu..” teriakku lagi dan berusaha memeluknya kembali.
Tiba-tiba tubuhku hanyut ke tempat yang berbeda, bukan
di tepi pantai tapi di sebuah kamar dengan nuansa putih, dan kudapati wajah
ayah yang kuatir dengan mata sembab,
“Tania,
bangun Nak” ucap ayah seraya merangkulku.
“Ayah
mana ibu yah, kenapa Tania ada disini?, tadi Tania ketemu ibu di tepi pantai”
ceracauku dengan airmata mengalir. Tak kusangka ternyata pertemuan itu hanya
sebatas dalam mimpi, mimpi dari kerinduan seorang anak kepada sang ibunda tercinta.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbagus bisa di contoh
BalasHapusTrimakasih lek jefri
HapusSilahkan kalau mau belajar nulis cp saya...hehe
BalasHapus